Saatnya Ciptakan Petani Berjiwa Wirausaha

Pada saat ini, penduduk yang hidup di perkotaan semakin meningkat jumlahnya. Sementara bahan pangan mulai banyak diimpor, seperti gula, terigu, kedelai dan bahan pangan lainnya. Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi pada tahun 2030 nanti, ketika penduduk perkotaan makin meningkat, akan makin sulit mengimpor pangan dalam jumlah besar, karena negara lain juga berupaya mencukupi kebutuhan negaranya sendiri.

“Maka masalah pangan jadi serius, di kota lahan terbatas, di desa petani kurang modal. Maka dibutuhkan adanya keahlian di bidang pertanian. Bukan lagi sekedar traktor yang canggih, tapi petani juga mulai harus memanfaatkan internet, untuk mengetahui kondisi lapangan dan jenis tanaman yang sesuai dengan permintaan pasar,” kata Ir Muhaimin Iqbal, Founder iGrow Resources Indonesia,pada seminar nasional “Gerakan Nyata Entrepreneur Muda Pertanian dalam Persaingan Bisnis” di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Jurusan Penyuluhan Pertanian Yogyakarta, Jl Kusumanegara, Senin (21/8).

Iqbal menambahkan, petani harus diedukasi soal pasar, sehingga bisa tahu komoditi yang tepat dan petani lepas dari jerat rentenir. Pembicara lain, Dr Boyke Setiawan Soeratin MMAg, Ketua Bidang Kewirausahaan dan LPM Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PSPI) mengatakan, sarjana pertanian harus meneruskan jenjang sampai S3 supaya bisa punya tiga kaki, bisa sebagai wirausaha, bisa mengajar dan bisa sebagai konsultan.

“Kalian harus siap mental dan fisik di kebun paling tidak 10 – 15 tahun. Sayang masih ada yang tidak betah, alasannya tidak ada mall, padahal kalau sudah maju, ke kebun bisa pakai mobil berkelas dan pabrik yang representatif,” kata Boyke yang juga praktisi bisnis dan konsultan.

Guna menumbuhkan jiwa wirausaha, saatnya skripsi, tesis dan disertasi bersifat komersial, atau tugas akhir mendirikan usaha dalam waktu 6 bulan, Bila berhasil dapat nilai A, bila BEP dapat nilai B dan bila rugi bisa mengulang 6 bulan lagi. Jadi kalau punya uang, Boyke menyarankan untuk buka usaha yang lagi trend, seperti kuliner, pendidikan dan kesehatan.

Sedang Almudi Khurniawan SP, Direktur CV Awana Yogyakarta mengatakan, tes pasar mutlak dilakukan untuk memulai bisnis. Melakukan promosi, mengikuti pameran dan pemberian sampel sangat perlu. “Jika ditolak, jangan putus asa, direvisi lagi, perbanyak konseling sampai dapat respon baik dari konsumen,” kata Almudi.

Sementara, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Drs Gunawan Yulianto MM MSi menyebut, regenerasi petani merupakan problem besar, karena bukan sekedar masalah teknis, namun menjadi problem bersama lintas sektor.

Di sisi lain, tenaga kerja sektor pertanian didominasi lulusan SD ke bawah mencapai 74 persen,jadi penyebab rendahnya produktifitas tenaga kerja pertanian. Gunawan menambahkan dimasa datang, Indonesia harus punya generasi pertani berkarakter socioagripreneuryang responsif dan adaptif terhadap perubahan linhkungan internal dan eksternal. (*)

 
 

Share this Post



 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *