Generasi Z dan Pertanian Masa Depan

    0
    626

    Oleh : Pitri Ratna Asih SP. MSi.*

    Teori generasi menurut William Strauss dan Neil Howe dalam buku Generations: The History of America’s Future  menyebutkan bahwa generasi sekarang dibagi menjadi 5 golongan yaitu Generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964), Generasi X (lahir 1965-1980), Generasi Y (lahir 1981-1994), Generasi Z (lahir 1995-2010), dan Generasi Alpha (lahir 2011-2025). Berdasarkan teori tersebut, dapat diketahui bahwa mahasiswa saat ini didominasi oleh Generasi Z atau bisa disebut juga iGeneration, GenerasiNet, atau Generasi Internet yang tumbuh di era digital dengan berbagai macam teknologi canggih yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku dan kepribadiannya secara langsung maupun tidak langsung.

    Generasi Z memiliki kemampuan multi tasking tinggi, mereka sangat melek teknologi, kemampuan bahasa dan komunikasi juga tinggi. Teknologi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun, generasi ini cenderung individualis dan tidak sabaran karena teknologi canggih menawarkan segala sesuatu yang serba instan dan cepat. Mereka sangat fasih dengan komputer tapi kemampuan teknis di lapang cenderung kurang. Lalu, dengan berbagai karakter yang dimilikinya, bagaimana jika generasi Z ini dihadapkan pada sektor pertanian Indonesia ketika tiba masanya tongkat estafet tanggung jawab itu sampai pada generasi  tersebut. Karena notabene Indonesia merupakan negara berkembang dimana sektor pertanian masih pada taraf padat karya bukan padat modal atau teknologi meskipun kita semua selalu berharap kemajuan yang merata di seluruh wilayah dan bidang dapat tercapai.

    Data BPS yang dikeluarkan tanggal 15 Desember 2017 memperlihatkan bahwa Indonesia mengalami krisis regenerasi petani. Penduduk yang bekerja di rumah tangga usaha pertanian didominasi oleh kelompok umur 35-65 tahun dengan presentasi  74.4%. Penduduk usia 15-34 tahun yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 12.8%, usia ≥ 65 tahun 12.7%, dan <15 tahun 0.012%. Dominasi dari mayoritas petani berusia di atas 35 tahun tersebut juga dapat mempengaruhi kemampuan petani dalam menyerap teknologi maju disamping juga faktor tingkat pendidikan yang masih rendah dari mayoritas tersebut. Pelaku pertanian secara nyata juga berkurang dari 41.2 juta jiwa menjadi 35.92 juta jiwa dalam kurun waktu 10 tahun sedangkan tren jumlah penduduk semakin meningkat. Total penduduk Indonesia tahun 2018 berjumlah 265 juta jiwa, angka ini meningkat dari tahun 2017 yang berjumlah 261,9 juta jiwa dan diproyeksikan akan berjumlah 268,1 juta jiwa di tahun 2019.

    Beberapa hal menjadi faktor munculnya keengganan generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, bahkan tidak bisa dipungkiri bagi mahasiswa lulusan pertanian sekalipun. Pertanian itu identik dengan kotor, panas, beresiko tinggi, dan juga persepsi bahwa kondisi pertanian Indonesia yang memprihatinkan kini. Faktor lain yang menjadi penyebab menurunnya minat kaum muda terhadap pertanian adalah semakin menurunnya luas lahan pertanian. Alih fungsi lahan yang tidak terkontrol, mengakibatkan luas lahan tanam semakin sempit. Tradisi sistem pembagian lahan yang bersifat waris dan membagi-bagi luas tanah sesuai jumlah anak mengakibatkan tingginya alih fungsi lahan ini. Tentunya generasi Z yang sudah berpikir logis dapat memperkirakan berapa keuntungan yang dapat diperoleh bila menjadi petani. Hal ini menjadikan bermata pencaharian di bidang pertanian bagi generasi Z merupakan pilihan kesekian, lain halnya dengan generasi X dan Y terdahulu. Bisa jadi berprofesi sebagai petani dipilih oleh sebagian generasi X dan Y karena memang tidak ada pilihan lain bagi mereka selain bertani.

    Peningkatan rasa cinta dan kepemilikan generasi Z harus menjadi perhatian semua pihak karena adanya krisis petani muda ini bila dibiarkan maka akan menjadi ancaman ketahanan pangan dalam negeri. Peningkatan tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah atau pemangku kepentingan dengan pendekatan teknologi informasi dan media sosial. Diantaranya pemanfaatan internet, Facebook, Twitter, dll untuk mengekspos berita pertanian terkini dan meningkatkan citra petani di mata generasi muda. Sekarang, berbagai pihak juga banyak membuka kompetisi-kompetisi hibah pendanaan start up usaha yang spesifik di bidang pertanian baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. Hal ini mampu mendorong dan memotivasi genrasi Z untuk tertarik terjun ke bidang ini.

    Kementerian Pertanian memiliki Perguruan Tinggi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan sumber daya manusia yang terdidik dan profesional di pertanian yaitu Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). STPP merupakan sekolah kedinasan di bawah Kementerian Pertanian yang memiliki visi “Menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi yang Unggul, Berdaya Saing dalam Menghasilkan Sumberdaya Manusia Pertanian yang Profesional, Mandiri, dan Berjiwa Wirausaha”. Selama di kampus, mahasiswa ditanamkan agar memiliki rasa kecintaan yang tinggi di bidang pertanian dan ditanamkan pula ruh untuk menjadi seorang agropreneur. Agropreneur adalah entrepreneur di bidang pertanian yang diharapkan memiliki kemampuan berpikir kreatif, imajinatif, dan mampu melihat peluang usaha untuk menciptakan perubahan, kemajuan, serta mampu menjawab tantangan masa depan pertanian. Salah satu program dari Kementerian Pertanian yang mampu menumbuhkan jiwa wirausaha mahasiswa di bidang pertanian yaitu ditawarkannya program PWMP (Program Wirausaha Muda Pertanian). Program ini telah dijalankan sejak tahun 2016 dan mampu mendorong kreatifitas mahasiswa untuk berwirausaha di bidang pertanian melalui bantuan dana modal start up usaha. Melalui PWMP ini diharapkan dapat mencetak agropreneur-agropreneur yang mampu membawa pertanian Indonesia masa depan lebih berjaya.

    Sektor pertanian merupakan sektor yang tidak akan pernah mati selama masih ada kehidupan manusia yang butuh makan. Manusia di seluruh belahan dunia bisa hidup tanpa teknologi tapi manusia tidak bisa hidup tanpa makanan dari petani. Negara yang memiliki kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan menjadikan rakyat lebih makmur dan sejahtera serta lebih dihargai oleh negara lain. Hal fundamental untuk mencapai kedaulatan pangan tersebut adalah menjaga eksistensi kaum tani di masa depan.

    *Penulis adalah  CPNS Kementan 2017 jabatan Calon Dosen Asisten Ahli di STPP Jurluhtan Yogyakarta

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here