Sultan HB X Dukung STPP Magelang jadi Polbangtan

0
287

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X menyambut baik dan mendukung transformasi pendidikan tinggi pertanian, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) di seluruh Indonesia, khususnya STPP Magelang jurusan penyuluhan pertanian (Jurluhtan) di Yogyakarta menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polibangtan).

Hal itu dikemukakan Sultan HB X saat menerima audiensi Ketua STPP Magelang, Ali Rachman didampingi Wakil Ketua I, Radjiman; Kabag Administrasi Umum, Irwan Johan Sumarno, dan Ketua Jurluhtan, R Hermawan di Kantor Kepatihan Jl Malioboro pada Rabu (23/5).

“Pemprov DIY mendukung baik langkah dan kebijakan Kementerian Pertanian RI mengembangkan STPP menjadi Polibangtan, khususnya STPP Jurluhtan Yogyakarta untuk menghadirkan sarjana penyuluhan pertanian andal dan profesional, sehingga dapat mendukung pencapaian swasembada pangan di DIY dan seluruh Indonesia,” kata Sultan HB X didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, Arofa Noror.

Ali Rachman mengatakan bahwa transformasi tersebut sesuai amanah UU Pendidikan Tinggi No 12/2012, yang mengisyaratkan kelembagaan pendidikan tinggi di Kementerian Pertanian RI mengerucut pada perubahan kelembagaan menjadi pendidikan vokasional atau politeknik.

Menurutnya, transformasi pendidikan pertanian tidak hanya menyangkut transformasi kelembagaan, juga menyangkut tranformasi penyelenggaraan pembelajaran, tenaga pengajar, program dan kerjasama dalam mempersiapkan perubahan STPP di bawah kendali tugas Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI.

Kepala BPPSDMP Kementan, Momon Rusmono dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa Polibangtan  bertumpu pada ilmu-ilmu pertanian terapan yang mengadopsi konsep ´teaching factory´ dengan orientasi pada produksi dan bisnis, maka politeknik akan menghasilkan tenaga vokasi terampil dan bukan sekadar penyuluh pertanian.

Dia mengharapkan lulusan Politani dapat menghasilkan beragam inovasi di bidang pertanian yang dapat diterapkan di lapangan, sehingga mampu memberikan terobosan untuk mendukung kedaulatan pangan, dengan melakukan penyesuaian seperti penyiapan program studi baru, prasarana dan sarana hingga penambahan tenaga pengajar.

Model TEFA
Polibangtan akan mengintegrasikan proses pembelajaran dengan produksi dan menumbuhkan jiwa wirausaha pada pelajar dan mahasiswa melalui model pembelajaran utama adalah teaching factory dan teaching farm (TEFA).

“Kementan menerapkan TEFA sebagai pembelajaran yang berorientasi produksi dan bisnis. Targetnya, adalah proses penguasaan keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya, untuk menghasilkan produk atau jasa sesuai kebutuhan konsumen,” kata Ali Rachman.

Prinsip dasar TEFA adalah mengintegrasikan pengalaman dunia kerja ke dalam kurikulum sekolah, yang merupakan perpaduan dari pembelajaran berbasis produksi dan pembelajaran kompetensi.

“Semua peralatan dan bahan serta pelaku pendidikan disusun dan dirancang untuk melakukan proses produksi dengan tujuan menghasilkan produk atau jasa,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here