‘Turiman’ Cara Percepat LTT 2018 di Kabupaten Cilacap

0
176

Kontributor :Budi Wijayanto

Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang  bersama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap melaksanakan sistem Turiman (tumpang sari tanaman) pada lahan seluas 100 hektar untuk komoditas padi dan kedelai, Selasa (28/09/2018). Turiman dilaksanakan Kelompok Tani Mukti Tani Desa Mulyadadi Kecamatan Majenang.

Materi Turiman disampaikan narasumber dari BPTP Provinsi Jawa Tengah dan Direktorat Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Indonesia. Dilanjutkan tanam bersama  mendukung program Upaya Khusus (Upsus) dalam meningkatkan luas tambah tanam (LTT) padi jagung kedele (pajale).

Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang, Ir Ali Rachman MSi menyampaikan, target  LTT di Kabupaten Cilacap harus  tercapai, bila ada kendala  dicarikan solusinya. Tumpangsari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman  dalam satuan waktu tertentu, sebagai suatu upaya dari program intensifikasi pertanian. Tujuannya untuk memperoleh hasil produksi yang optimal dan menjaga kesuburan tanah.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Cilacap, Ir Ermawati Syahyuni MP menyampaikan sistem tanam tumpangsari antar komoditas pangan telah banyak dipraktekan petani. Sistem tanam tumpangsari dimaksudkan agar kekurangan pangan akibat kegagalan panen dapat dicegah dan serangan hama dan penyakit dapat ditekan.

“Sistem tanam tumpangsari yang dipraktekkan petani hasilnya rendah, karena jarak tanam tidak diatur, kombinasi tanaman tidak tepat dan tidak saling komplementer,” jelasnya.

Lokasi kegiatan pengembangan teknologi pengaturan sistem tanam tumpangsari padi jagung kedelai, dapat dilaksanakan di lahan sawah irigasi pada akhir musim hujan. Lahan  rawa setelah penanaman padi yang pertama. Lahan sawah tadah hujan pada awal musim hujan, dengan populasi rapat dan lahan kering pada awal musim hujan.

Menurut Liaison Officer (LO) Upsus Pajale Kabupaten Cilacap, Budi Wijayanto STP MSc, untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan pengembangan teknologi Turiman untuk padi jagung kedelai ada indikator kinerja sebagai tolok ukur keberhasilan. Diantaranya, terlaksananya pengembangan teknologi pengaturan sistem tanam tumpangsari, meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi pertanian dan pendapatan petani serta pemberdayaan kelompok, meningkatnya produktivitas lahan, mengoptimalkan penggunaan lahan dan air.

“Indikator lainnya, berkurangnya risiko kegagalan panen, atau kerugian salah satu tanaman, berkurangnya biaya produksi dan meningkatnya pendapatan usahatani,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here