Mahasiswa Polbangtan YOMA Dalami Manajemen Industri Biofarmaka

0
99

Guna menambah wawasan, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang Jurusan Pertanian, melaksanakan kuliah umum Manajemen Industri Biofarmaka oleh PT Phapros Tbk, Sabtu (30/3/2019) di Kampus Kusumanegara Yogyakarta.

Kuliah umum disampaikan  Manajer Produksi PT Phapros Tbk, Idiana Novita S. SF Apt. Kuliah umum diikuti 175 mahasiswa tingkat satu, dari Prodi Agribisnis Hortikultura, Prodi Teknologi Benih dan Prodi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan.

Manajer Produksi PT Phapros menyampaikan, potensi pasar herbal Indonesia masih terbuka lebar. Pasar obat tradisional terus mengalami peningkatan. Menurut data Dirjen BinFar dan Alkes, Kemenkes, tahun 2007, pasar obat tradisional Indonesia mencapai total transaksi Rp 6 Triliun. Sementara tahun 2015, terjadi kenaikan yang cukup signifikan dengan total transaksi mencapai Rp 20 triliun dengan proyeksi pertumbuhan 33 persen.

Peluang obat herbal Indonesia antara lain bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, memiliki hukum dan regulasi yang memihak pada perkembangan obat herbal, serta kebijakan nasioanal dan paradigma hidup sehat.

Sementara itu, tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan obat tradisional di Indonesia adalah kontinuitas bahan baku, standardisasi dan stabilitas bahan baku dan produk jadi, harga produk dan data uji klinis atau evidence based medicide.

“Dalam memenangkan peluang dan menghadapi tantangan tersebut, Inovasi adalah darah segar perusahaan, sehingga kita perlu melakukan inovasi baik produk, pemasaran, organisasi, sistem digitalisasi,” ungkap Idiana.

Terkait dengan perkembangan industri biofarmaka, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang memiliki peran yang cukup penting. Dengan adanya Program Studi Agribisnis Hortikultura minat Biofarmaka, diharapkan mahasiswa dapat memiliki wawasan yang cukup luas di bidang biofarmaka.

Salah satu peran yang dapat dikembangkan adalah produksi simplisia yang meliputi budidaya, pasca panen dan identifikasi simplisia. “Tentu saja dalam mengembangkan produk simplisia, sesuai perundangan yang berlaku, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) dalam penyediaan bahan baku adalah hal yang mutlak ada,” tegas Idiana. Hal ini untuk mengantisipasi risiko utama produksi simplisia yaitu jasad renik dan pestisida.

Kuliah umum juga dihadiri Sekretaris Jurusan Pertanian, Kepala Teaching Factory (TEFA) Polbangtan Yogyakarta Magelang, dan beberapa dosen dan asisten dosen.

Menurut Kepala TEFA Polbangtan Yogyakarta Magelang, Kodrad Winarno, STP, M AgriCom, perkuliahan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa serta bagi civitas akademika Polbangtan Yogyakarta Magelang. “Perkuliahan ini membuka wawasan mahasiswa terkait manajemen industri biofarmaka, yang ternyata tidak hanya dalam aspek budidaya maupun  produksi simplisia saja, tetapi sampai ke manajemen secara keseluruhan. Selain itu, kami dari Tim TEFA bertambah wawasannya, karena bisa sharing,” ungkap Kodrad.

Mahasiswa  sangat antusias dalam mengikuti kuliah umum ini, dan aktif bertanya. Salah satu mahasiswa bahkan ada yang bertanya sampai detail, seperti pengaruh pengeringan matahari terhadap kandungan zat aktif pada suatu tanaman penghasil simplisia.

“Kuliah ini sangat menarik, menambah wawasan bagi kami dan jadi bekal setelah lulus nanti,” ungkap Alvi mahasiswi Program Studi Agribisnis Hortikultura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here