Dialog Kebangsaan Milenial Polbangtan YoMa, Ini Pesan Direktur Dr Rajiman

0
33

Berada jauh dari kampung halaman seharusnya memperkuat ketahanan diri dan meningkatkan semangat nasionalisme seluruh mahasiswa Polbangtan YoMa. Datang dari berbagai suku, aneka bahasa dan budaya namun dipersatukan dalam ´Indonesia mini´ untuk menempuh pendidikan vokasi pertanian di kampus Yogyakarta dan Magelang.

“Begitu pula dengan para dosen, pegawai dan pejabat yang mendukung berlangsungnya kegiatan civitas academica di Polbangtan YoMa. Kita semua berbeda-beda tapi satu di bawah naungan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Direktur Dr Rajiman pada Dialog Kebangsaan Milenial bertajuk ´Mewujudkan Generasi Muda Berjiwa Pancasila di Era 4.0 di Yogyakarta, Jumat [19/7].

Kegiatan Dialog Kebangsaan Milenial di kampus Kusumanegara 2 Yogyakarta menghadirkan narasumber Andreas Joko Wicoyo dari Forum Kerukunan Umat Beragama dan Dr Heri Santoso dari Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada Yogyakarta [UGM].

Dr Rajiman pun mengurai fakta-fakta tentang NKRI bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, 17.508 pulau; 1.100 bahasa daerah yang dipersatukan oleh bahasa Indonesia.

Menurutnya, persoalan kebangsaan menjadi salah satu dari 9 Agenda Prioritas yang tertuang dalam NawaCita di era pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla, maka untuk memperteguh ke-Bhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan pendidikan ke-Bhinekaan, dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga adalah agenda yang dilakukan Polbangtan YoMa saat ini.

“Pancasila sebagai falsafah kehidupan manusia lambat laun mengalami pendewasaan terkait cara berfikir praktis, realistis dan agamis. Tantangan ini harus dijawab terutama harus diformulasikan oleh generasi milenial yang menjadi penerus bangsa saat ini,” kata Dr Rajiman.

Andreas Joko Wicoyo menguraikan tentang merawat kebangsaan yang multikultur dengan semangat nasionalisme, tidak saja memperkuat persatuan etnis dan budaya dan meneguhkan persatuan sebagai sebuah bangsa, juga membangun masa depan dan mendorong daya saing di kancah global.

“Generasi milenial harus membuat visi yang realistis, membangun gagasan, menumbuhkan semangat, dan menjaga persatuan di atas keberagaman suku bangsa, bahasa dan budaya,” kata Andreas JW.

Dr Heri Santoso menyoroti tentang problematika bangsa dan ancaman yang merusak tatanan bangsa hari ini, bukan lagi soal penjajahan secara fisik.

“Tantangan terbesar adalah ancaman serangan mental dan ideologi yang merusak perdamaian bangsa. Kini, narasi-narasi negatif makin berkembang dan mudah memecah belah persatuan bangsa,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here