Kampus Petani Milenial, Polbangtan YoMa Raih Penghargaan dari Pemkot Yogyakarta

0
56

Kampus jurusan pertanian Polbangtan YoMa meraih penghargaan ´Tatanan Kawasan Kampus, Pemukiman dan Sarana Prasarana Umum´ dalam Program Kota Sehat tingkat Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya mempertahankan penghargaan tertinggi Swasti Saba Wistara 2019, untuk keenam kalinya secara berturut-turut hingga 2019, setelah Kota Yogya menyandang predikat Kota Sehat Nasional sejak 2007.

Penghargaan diterima oleh Kabag Umum Polbangtan YoMa, Irwan Johan Sumarno mewakili Direktur Dr Rajiman di Balaikota DIY, Senin [18/11] dari Kepala Dinas Kesehatan Pemkot Yogyakarta mewakili Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.

“Penghargaan Kota Sehat 2019 tingkat Yogyakarta memberi peluang bagi Polbangtan YoMa kampus Yogyakarta untuk penilaian di tingkat nasional,” kata Irwan JS.

Menurutnya, Direktur Dr Rajiman meminta semua pihak di Polbangtan YoMa yang terlibat untuk menyiapkan profil dan dokumentasi kegiatan dilanjutkan penilaian fisik/lapangan oleh Tim KKS Pemkot Yogyakarta.

“Seluruh civitas academica diharapkan menyiapkan semuanya dengan baik,” kata Irwan JS mengutip arahan Direktur Polbangtan YoMa, Dr Rajiman.

Sebagaimana diketahui, Polbangtan YoMa kampus Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 8 hektar di kawasan Semaki, Jl Kusumanegara, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 28 Januari 1978 saat masih bernama Sekolah Pertanian Pembangunan – Sekolah Pertanian Menengah Atas  [SPP-SPMA].

Polbantan YoMa adalah perguruan tinggi kedinasan dari Kementerian Pertanian RI di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Pertanian RI yang pelaksanaanya dilimpahkan pada Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian [BPPSDMP Kementan].

Kampus Milenial
Polbangtan YoMa sesuai arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengusung visi dan misi mendidik petani milenial melalui perguruan tinggi vokasi pertanian, yang akan menghasilkan job creator dan job seeker untuk mendukung pembangunan pertanian nasional berkelanjutan.

Hal senada dikemukakan Kepala BPPSDMP Kementan, Prof Dedi Nursyamsi bahwa mahasiswa Polbangtan mengemban misi sebagai ´motor penggerak´ transformasi pertanian tradisional Indonesia menuju modern, sesuai kodratnya sebagai generasi milenial.

Milenial adalah sebutan untuk generasi Y dan Z, yang lahir di tengah kemajuan teknologi digital sehingga lebih tertarik dan mudah beradaptasi pada teknologi informasi dan komunikasi [TIK] ketimbang generasi X yang lahir sebelum dekade 90-an.

“Pertanian tradisional itu peninggalan era kolonial. Saat penduduk belum sebanyak sekarang maka pemenuhan kebutuhan pangan cukup dengan cara tradisional. Sekarang tidak mungkin lagi seperti itu. Milenial harus kuasai modernisasi pertanian. Kembangkan inovasi, mampu mengoperasikan diikuti perawatan dan pemeliharaan, yang bisa lakukan itu hanya kalangan milenial,” kata Dedi Nursyamsi pada kuliah umum di Magelang, kampus jurusan peternakan Polbangtan Yoma pada penghujung Agustus 2018. [IJS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here