Kuliah Umum Polbangtan YoMa, Kepala BKP Ajak Milenial Dukung Kedaulatan Pangan

0
160

Kementerian Pertanian RI pada 2019 mengembangkan Program ´Pertanian Masuk Sekolah´ pada 68 sekolah di seluruh Indonesia, meningkat menjadi 340 sekolah pada 2020. Tujuan utama adalah mengembalikan minat generasi muda atau milenial, mendukung regenerasi petani mengingat 15 tahun ke depan Indonesia memasuki ´bonus demografi´ yang disikapi Pemerintah RI untuk memberi peluang seluas-luasnya bagi generasi muda mendukung kedaulatan pangan, hal itu selaras dengan UU Pangan No 18/2012 bahwa “pangan merupakan kebutuhan dasar dan menjadi hak asasi manusia”.

“Konsekuensi dari UU tersebut maka tidak boleh ada satu pun dari 267 juta penduduk Indonesia yang mengalami rawan pangan apalagi kelaparan” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan [BKP] Agung Hendriadi didampingi Direktur Polbangtan YoMa, Dr Rajiman pada kuliah umum di hadapan sekitar 200 mahasiswa Polbangtan Yoma jurusan pertanian di Yogyakarta, Sabtu [7/12].

Menurut Agung Hendriadi, upaya yang dilakukan Kementan khususnya BKP adalah mengembalikan minat generasi muda ke sektor pertanian melalui Program Pertanian Masuk Sekolah. Tahun ini program tersebut dikembangkan pada di 68 sekolah di seluruh Indonesia kemudian meluas menjadi 340 sekolah pada 2020.

Dia mengingatkan agar generasi muda rajin belajar sekaligus membaca dan mendengar, karena peluang bagi generasi muda untuk berkembang sangat terbuka. 

Kuliah umum bertajuk ´Peran Generasi Muda Dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Era 4.0 di Polbangtan´, Agung Hendriadi memaparkan berbagai tantangan pembangunan sektor pertanian nasional ke depan dalam mencukupi kebutuhan pangan seperti menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, skala usahatani pertanian relatif kecil, musim yang tidak menentu dan semakin berkurangnya jumlah petani.

“Menyikapi hal itu, pemerintah khususnya BKP Kementan berharap agar adik-adik semua berperan dalam pembangunan pertanian ke depan untuk ikut mengatasi permasalahan tersebut,” katanya.

Agung menambahkan, 15 tahun ke depan Indonesia memasuki bonus demografi yang ditandai dengan banyaknya tenaga kerja muda, maka periode tersebut merupakan ´masa emas´ bagi Indonesia jika mampu memanfaatkannya, termasuk generasi milenial untuk menekuni sektor pertanian.

“Kunci menjadi petani milenial antara lain berani memulai dengan ide-ide kreatif. Kalau gagal, tidak harus kecewa dan menyerah, karena kegagalan keberhasilan yang tertunda maka harus bangkit lagi untuk berfikir, berjuang dan bekerja keras,” kata Agung yang didampingi Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan BKP Kementan, Andriko Noto Susanto.

Kiat berikutnya adalah mampu melihat peluang dan berani melakukannya, serta melibatkan masyarakat sekitar, karena peran mahasiswa adalah motivator sekaligus penggerak masyarakat, karena itu ajaklah masyarakat sekitar dan manfaatkan teknologi untuk meraih kemajuan dan keberhasilan. [IJS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.