Selaras KostraTani, Metode ACT-LIT Tingkatkan Partisipasi Belajar Mahasiswa Polbangtan YoMa

0
79

Haruskah melarang mahasiswa memakai smartphone di kelas? Perguruan tinggi vokasi pertanian dari Kementerian Pertanian RI, Polbangtan YoMa berfikir out the box melakukan ´transformasi peningkatan partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran´ untuk meningkatkan pelayanan pendidikan, peningkatan ketertiban dokumentasi dan evaluasi pembelajaran sekaligus mempermudah tercapainya sasaran mutu pendidikan dengan mengembangkan Active Class Learning using Information Technology [ACT-LIT].

“Dampaknya partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran meningkat. Interaksi dosen dan mahasiswa lebih baik dan proses pembelajaran lebih menyenangkan. Motivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran meningkat. Mutu capaian kompetensi mahasiswa terpenuhi, karena pembimbing dapat mengevaluasi langsung didukung IT. Proses pembelajaran terdokumentasi baik, kompetensi mahasiswa dalam bidang IT kian meningkat,” kata Direktur Polbangtan YoMa, Dr Rajiman seperti dikutip Kepala Bagian Umum Polbangtan YoMa, Irwan Johan Sumarno saat paparan Metode ACT-LIT pada pimpinan Pusat Pendidikan Pertanian [Pusdiktan BPPSDMP] di Jakarta, Jumat [8/2].

Menurutnya, sebelum menerapkan ACT-LIT, skor tingkat partisipasi mahasiswa jurusan penyuluh pertanian dalam kelas hanya 0,20. Ternyata dari 35 mahasiswa hanya lima yang aktif diskusi dan tanya jawab. Setelah menerapkan ACT-LIT, skor naik ke 0,90, dari 35 mahasiswa Agro-sociopreneur hampir keseluruhan mahasiswa aktif berdiskusi.

Dr Rajiman menambahkan Polbangtan YoMa ACT-LIT termotivasi ´pernyataan inspiratif´ Kepala BPPSDMP Kementan, Prof Dedi Nursyamsi tentang masa depan pertanian Indonesia ditentukan oleh pola pikir out of the box, karena peran SDM pertanian sangat penting maka mahasiswa Polbangtan sudah seharusnya menjadi ´motor penggerak´ transformasi pertanian tradisional menuju modern sesuai kodratnya sebagai generasi milenial.

“Menurutnya, pertanian di era 4.0 lebih menarik bagi generasi muda lantaran mempertimbangkan produktivitas dan profitabilitas, kesempatan kerja, kenyamanan dan kepuasan kerja sesuai karakter generasi muda dengan pola pikir dan aktivitas dinamis, dengan ketertarikan tinggi terhadap inovasi teknologi,” kata Irwan JS mengutip arahan Prof Dedi Nursyamsi saat kunjungan ke Polbangtan YoMa di Kampus Peternakan Magelang pada Selasa [27/8].

Sebagaimana diketahui, milenial adalah sebutan untuk generasi Y dan Z, yang lahir di tengah kemajuan teknologi digital sehingga lebih tertarik dan mudah beradaptasi pada teknologi informasi dan komunikasi [TIK] ketimbang generasi X yang lahir sebelum dekade 90-an.

“Tinggalkan pola pikir kolotnial mengelola pertanian. Produksi pangan Indonesia tergantung pada milenial, mahasiswa Polbangtan YoMa adalah bagian dari milenial Indonesia,” kata Dedi Nursyamsi seperti dikutip Irwan JS yang menyampaikan paparan ACT-LIT didampingi Kabid Program dan Kerjasama Pendidikan – Pusdiktan, Setyabudi Udayana mewakili Kepala Pusdiktan, Idha Widi Arsanti.

Gerakan KostraTani
Metode ACT-LIT selaras dengan Komando Strategis Pembangunan Pertanian didukung Agriculture War Room [AWR KostraTani] yang diinisiasi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo [SYL] yang mengedepankan teknologi informasi dan komputasi [TIK] terkini di era 4.0 untuk kapitalisasi peran Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] mendukung kinerja petani dari locust-nya di kecamatan.

“Tentunya, mahasiswa milenial Polbangtan YoMa setelah lulus sebagai sarjana terapan akan langsung tune in dengan AWR dan KostraTani untuk mencapai sasaran Mentan SYL dan Kabadan SDM Kementan,” kata Irwan JS.

Polbangtan YoMa mengembangkan ACT-LIT didasari masalah utama bahwa proses pembelajaran konvensional tidak efektif, akibatnya partisipasi mahasiswa terbatas. Pelarangan memakai smartphone dalam kelas tidak efektif, malahan akan menurunkan motivasi motivasi mahasiswa yang kadung akrab pada smartphone. Jumlah mahasiswa akan menyulitkan dosen melakukan evaluasi pembelajaran dalam kelas, namun dengan teknologi maka evaluasi pembelajaran lebih mudah dievaluasi dan hemat waktu.

“Keterbatasan waktu karena keterbatasan jumlah dosen dapat diatasi dengan IT melalui e-learning dan juga perangkat IT lainnya di dalam atau di luar kelas. Evaluasi pembelajaran dan proses koreksi biasanya memakan waktu lama padahal dosen harus mengajar di banyak kelas sehingga terkendala waktu,” kata Irwan JS.

Dr Rajiman seperti dikutip Irwan JS pada mulanya terdapat resistensi karena dikhawatirkan memakai smartphone di dalam kelas akan mengganggu pembelajaran. Solusinya, memberi contoh keberhasilan penggunaan smartphone di dalam kelas dalam proses belajar mengajar. Masalah lain, belum siapnya sarana dan prasarana pendukung dan SDM pada awal implementasi, misal dukungan koneksi WiFi dan perangkat hardware dalam kelas, hal itu diatasi dengan kontrol berkala melibatkan bagian TI Polbangtan YoMa.

“Awalnya, beberapa dosen masih belum familiar dengan pemanfaatan IT dalam kelas, memberikan sosialisasi kepada dosen tentang pemanfaatan teknologi, atau memberikan melalui asisten dosen yang lebih muda dan lebih menguasai IT,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.