Tetap Produktif di Tengah Pandemi, Inilah Yang Dilakukan Milenial Polbangtan

0
173

Kebijakan Study From Home (SFH) yang diberlakukan oleh Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjering Pertanian Indonesia (PEPI) di bawah naungan Kementerian Pertanian tak menurunkan kreativitas mahasiswanya.

Di masa pandemi covid 19, sudah hampir dua bulan aktifitas perkuliahan dilakukan dari rumah secara online.

Moch Alfino Ridho Kuncoro mahasiswa semester akhir jurusan Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan di Polbangtan Yogyakarta Magelang mencoba mengisi kegiatan selama di rumah saja dengan kreatifitas yang menghasilkan secara ekonomi.

Kecintaannya pada dunia pertanian memotivasi dirinya untuk mencoba berbisnis tanaman obat, sayuran hingga produk herbal yang sedang menjadi trending saat ini.

Sebagai generasi milienial, pria berusia 22 tahun asal Ngawi ini memanfaatkan media online (instagram) dengan nama @tamansejuknursery sebagai media promosi serta publikasi.

“Saya sudah coba trial error beberapa usaha dibidang tanaman. Salah satunya tahun kemarin, saya mencoba usaha hidroponik sayur dengan meracik nutrisi sendiri. Namun, karena padatnya jadual perkuliahan dan fokus saya pada skripsi baru sekarang baru mencoba kembali usaha ini. Alhamdulillah untuk sayur sudah ada pasar bahkan konsumen datang kerumah,” papar Alfino.

” Ketertarikan saya pada hidroponik itu sejak tingkat 2 (dua), lalu saya coba buat praktekan di rumah saya pada tingkat 3 (tiga) dengan merakit sendiri green house. Karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman saya ketika hujan rubuh, terus saya coba belajar ke petani hidroponik di ngawi dan jogja. Saya coba memulai usaha lagi dengan memanfaatkan polybag yang ditanami sayur, sembari saya menabung untuk membeli aerator, paranet, pipa, plastik untuk atap greenhouse,”kenang Fino.

Bermodalkan tabungan pribadinya, pengetahuan yang ia dapat dari dari Polbangtan, berburu ilmu melalui youtube serta sharing dengan petani kini ia telah membangun green house dengan 1500 lubang hidriponik dan vertikulture yang ditanami selada dan pakcoy dengan jumlah panenan 20 ikat per 5 harinya.

“Memang belum banyak hasil produksinya, karena ini baru berjalan dan pembangunan greenhouse juga bertahap. Tetapi saya optimis bila kita tekun dan mampu untuk menciptakan peluang InshaAllah akan berhasil”,ungkapnya optimis.

Selain sayuran, Alfino pun menjual bibit herbal, tanaman hias bahkan mengolah empon-empon menjadi jamu siap minum dengan produksi 20 botol perharinya.
Di @tamansejuknursery, ia tak hanya melakukan usaha yang bersifat komersial semata, bersama rekan-rekannya ia mencoba sharing ilmu/edukasi melalui talkshow online melalui live ig dengan nama ‘NGONANGI’ Ngobrol tentang Tani.

“Alhamdulilah sekarang sudah edisi ke 4 dengan topik pembicaraan teknis dan sosial dan pembicara dari alumni, mahasiswa atau petani sukses”, jelas Fino.

Inovasi dan kreativitas Alfino menjadi jawaban atas keraguan generasi milienial untuk terjun menekuni dunia pertanian. Memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di pendidikan vokasi Kementerian Pertanian

Ia telah membuktikan bahwa ia siap untuk menjadi generasi milenial yang maju, mandiri dan modern sesuai arahan Menteri Pertanian SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi selalu menekankan  ditangan generasi milienial  tanggung jawab pembangunan pertanian berada.

Lahirnya milenial yang maju, mandiri dan modern seperti harapan Mentan dapat diraih salah satunya melalui pendidikan vokasi. Melalui pendidikan vokasi, generasi milenial tidak hanya diberikan teori semata, namun juga mereka lebih banyak melakukan praktek dilapangan.

Telah terbukti banyak lulusan bahkan mahasiswa Polbangtan yang telah berhasil mengembangkan usaha di sektor pertanian, salah satunya yang kini merintis adalah Alfino

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.