Sagio PPL Kota Yogya, Jadikan Teknologi Sahabat Petani

    0
    35

    Di tengah pandemi Covid 19, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) tak henti-hentinya menghimbau seluruh insan pertanian untuk tetap produktif. Efek dari pandemi mengakibatkan hampir semua sektor kehidupan bermasalah, termasuk sektor ekonomi. Tapi ada satu sektor yang memiliki efek yang besar jika bermasalah, yaitu jika kebutuhan pangan 267 juta jiwa tidak terpenuhi, maka ini efeknya akan panjang. Untuk itu seluruh insan pertanian haruslah tetap melakukan olah tanah, tanam dan panen agar stok pangan negeri ini aman, papar Mentan.

    Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menambahkan bahwa ketahanan pangan menjadi kunci untuk menghadapi pandemi Covid-19. Segala upaya perlu dilakukan, termasuk  percepatan tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan termasuk pasca Covid-19 nanti.  Untuk itu dibutuhkan kerja keras penyuluh untuk terus memotivasi dan mendampingi petani agar proses ini tetap berjalan.

    “Dalam masa seperti ini, pertanian tidak boleh berhenti. Pertanian tidak boleh bermasalah. Petani dan penyuluh harus terus turun ke lapangan. Namun tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19 seperti selalu cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, dan pakai masker. Kenapa pertanian tidak boleh berhenti, karena sektor pertanian berkewajiban menyediakan bahan pangan,” tutur Dedi.

    Salah satu strategi antisipasi krisis pangan adalah dengan pemberdayaan masyarakat untuk mulai bertanam. Bagi masyarakat pedesaan, bertanam adalah hal biasa, tetapi berbeda dengan masyarakat perkotaan. Urban farming merupakan bagian dari solusi untuk memanfaatkan lahan sempit yang ada di kota. Guna mewujudkan itu semua, keberadaaan dan peran penyuluh pertanian di perkotaan sangat diharapkan. Salah satu penyuluh pertanian di kota yang aktif dengan penyuluhan berbasis IT adalah Sagio, seorang Penyuluh dari Kec. Tegalrejo, Kota Yogyakarta. 

    Sagio mengajak warga kota Yogyakarta agar selalu memanfaatkan lahan kosong untuk menanam tanaman sayuran, buah, hias dan obat-obatan. Dengan mengoptimalkan sejumlah Kelompok Wanita Tani (KWT), ia mengubah kota yang terasa panas menjadi  hijau, sejuk, segar dan asri. Aksi gerakan menanam di kota  atau urban farming saat ini sudah banyak dilakukan. Banyak yang memanfaatkan bahan bekas, seperti botol bekas, kaleng, maupun dengan sistem hidroponik.

    Bagi penyuluh pertania, pandemi bukanlah  halangan untuk tetap melakukan anjangsana ke petani maupun poktan. Tetapi anjangsana yang ia lakukan tidak langsung dari rumah ke rumah melainkan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sagio pun terus  memotivasi petani untuk memanfaatkan perkembangan teknologi. Ia pun memperkenalkan aplikasi You Tube untuk memperkaya pengetahuan petani dengan tutorial pertanian yang sederhana dan mudah diikuti oleh petani telah dihasilkannya. Dengan demikian petani dapat tetap merasa terdampingi tanpa kehadirannya secara langsung. Selain melalui you tube, Sagio dan rekan penyuluh lainnya juga  aktif memanfaatkan group-group media sosial untuk berbagi ilmu dan menampung aspirasi kelompok tani. Harapannya petani kota harus mulai cinta pertanian, harus tetap terus menanam demi ketersediaan pangan nasional

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.